Login

This is suci

ANAKKU MENGAPA KAU LAHIR DISAAT DUNIA RETAK

ANAKKU MENGAPA KAU LAHIR DISAAT DUNIA RETAK

Beberapa bulan terakhir, dunia seperti kehilangan ritmenya. Di layar-layar berita, laporan tentang serangan militer skala besar Amerika terhadap Iran yang pecah baru baru ini masih menyisakan trauma kolektif. Dunia internasional menahan napas, menatap "geopolitical brinkmanship" atau diplomasi di tepi jurang yang kian nyata. Menurut laporan SIPRI Belanja militer global telah menyentuh angka yang sulit dinalar berkisar di angka 2,6 - 2,7 triliun dolar AS, Salah satu kenaikan paling tajam sejak era perang dingin. Seolah-olah, setiap bangsa sedang mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk. hal ini membuat kita semua bertanya-tanya "apakah ini hanya eskalasi sementara atau awal dari sesuatu yang lebih panjang?".


Pada saat yang sama, bumi pun menyampaikan kabarnya sendiri dengan bahasa yang lebih tegas. Lembaga-lembaga iklim internasional seperti World Meteorological Organization melaporkan bahwa beberapa tahun terakhir merupakan periode terpanas dalam sejarah pencatatan modern. Perubahan Suhu yang kian ekstrem ini bukan lagi sekadar angka di atas kertas ia menjelma menjadi banjir yang merendam Aceh dan wilayah Sumatera baru-baru ini, menyisakan lumpur yang belum sepenuhnya hilang dari ingatan warga. Seperti nelayan yang kini membaca laut dengan kecemasan baru karena pola arus yang berubah, atau petani yang menggenggam musim yang tak lagi setia pada pola lama, alam sedang mengingatkan kita akan batas-batasnya.


Di dalam negeri, kegelisahan hadir dalam bentuk yang lebih sunyi. Harga pangan merangkak naik seiring masuknya bulan Ramadan. Di pasar-pasar Gorontalo, percakapan tentang harga beras, daging ayam, dan cabai rawit terdengar lebih sering di sela-sela belanja takjil. Inflasi Februari 2026 yang mencapai 0,68% secara bulanan terutama didorong oleh lonjakan harga bahan pangan strategis ini. Sebagian besar pengeluaran rumah tangga ini masih didominasi oleh kebutuhan pangan. Di tengah prestasi penurunan angka kemiskinan provinsi ke level 12,62%, realitas di meja makan tetap menjadi cerita tentang ketangguhan ibu-ibu yang harus menghitung ulang setiap rupiah dengan sabar.


Tahun ini, Ramadan datang lagi dengan rasa yang berbeda. Lebih banyak orang menahan bukan hanya lapar, tetapi juga cemas. Namun, di tengah semua keriuhan itu, aku merasakan satu denyut yang berbeda dalam diriku. Di dalam tubuhku, seorang anak laki-laki sedang tumbuh. Enam bulan menuju tujuh. Geraknya lembut namun nyata, seakan menjadi antitesis dari kegaduhan dunia di luar sana. Allah telah mengingatkan dalam firman-Nya: “Zhaharal-fasādu fil-barri wal-bahri bimā kasabat aydin-nās…” (QS. Ar-Rum: 41) Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia. Ayat ini tidak menyalahkan langit atau bumi ia menunjuk pada kita.


Sebagai ibu, aku bertanya dalam diam "di tengah dunia yang mulai menanggung akibat dari kelalaiannya sendiri, nilai apa yang harus kutanamkan pada anakku nanti, agar anakku tidak menjadi bagian dari kerusakan itu?". Aku teringat satu kisah yang sering dibaca, tetapi mungkin jarang direnungkan dalam konteks keibuan "Asma binti Abu Bakar". Seorang perempuan yang hidup bukan di masa yang tenang. Ia adalah saksi dari tekanan, ancaman, dan peristiwa besar yang mengubah sejarah. Asma adalah sosok di balik layar peristiwa Hijrah, yang merobek ikat pinggangnya menjadi dua demi mengikat bekal perjalanan Nabi sebuah tindakan kecil yang lahir dari keberanian besar. Ia hamil tua saat menempuh perjalanan sulit menuju Madinah. Ia tidak menunggu dunia menjadi stabil untuk melahirkan. Di Quba, di tengah ketidakpastian politik dan ekonomi masa itu, lahirlah putranya, Abdullah bin Zubair. Kelahiran bayi pertama kaum Muhajirin di Madinah itu menjadi simbol bahwa harapan tetap hidup, bahkan ketika dunia terasa tidak aman.


Setiap zaman memang goyah dengan caranya sendiri. Ada yang diguncang konflik di Timur Tengah dan revitalisasi kekuatan besar dunia, ada yang dihimpit krisis ekonomi, ada pula yang diuji dengan bencana alam. Namun rahim-rahim tetap bekerja. Bayi-bayi tetap memilih lahir. Lalu pertanyaan itu kembali kepadaku "Mengapa anakku lahir di tahun yang goyah?" Barangkali bukan karena dunia sedang runtuh, melainkan karena dunia sedang membutuhkan generasi yang lebih teguh.


Ramadan mengajarkan kita bahwa "Puasa adalah perisai" (As-shiyamu junnah). Bukan hanya perisai dari lapar, tetapi perisai dari reaksi berlebihan saat dunia terasa goyah. Puasa melatih kita untuk tidak impulsif, memberikan jarak antara dorongan emosi dan keputusan akal. Aku tidak bisa menjanjikan dunia yang sepenuhnya tenang untukmu. Aku tidak bisa menghentikan berita-berita tentang konflik global atau memastikan harga kebutuhan pokok di Gorontalo kembali stabil. Namun, aku memegang janji Allah: “Fa inna ma‘al ‘usri yusrā. Inna ma‘al ‘usri yusrā.” (QS. Al-Insyirah: 5–6) Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.

Bukan "setelah", tetapi "bersama". Mungkin itulah cara terbaik memandang kehadiranmu. Kau tidak datang setelah dunia selesai dengan masalahnya, kau datang bersamanya sebagai bagian dari solusi yang dikirimkan Tuhan.


Di bulan Ramadan ini, saat manusia belajar menahan lapar hingga maghrib, aku belajar menahan cemas hingga waktu melahirkanku tiba. Ada kesabaran yang sama: menunggu dengan iman, bukan dengan panik. Dunia boleh berisik dengan isu perang dan krisis, tetapi di dalam rahim, kehidupan tumbuh dengan ritme yang tenang. Jika suatu hari kau membaca ini, ketahuilah nak, kau tidak lahir di masa akhir. Kau lahir di masa peralihan. Dan setiap masa peralihan membutuhkan manusia yang tidak hanya cerdas, tetapi juga jernih jiwanya.


Ya Allah, jika Engkau takdirkan ia lahir di tahun yang goyah, maka kokohkanlah jiwanya melebihi goyahnya zaman. Lahirkan ia dengan selamat, besarkan ia dalam iman yang lapang, dan jadikan ia manusia yang tahu tanggung jawab terhadap bumi yang kini sedang merintih. Semoga kau tumbuh bukan sekadar menjadi saksi zaman, tetapi menjadi bagian dari perbaikannya. Amin.


Comments

Tulis Komentar